Dalam bukunya, “Warren Buffett: Inside the Ultimate Money Mind,” Robert Hagstrom menjelaskan bagaimana investasi nilai (investasi nilai) telah berevolusi melalui tiga tahap. Apa saja tahapannya?
Tahap 1: Investasi Nilai Klasik
Tahap pertama ini adalah gaya investasi nilai klasik yang pertama kali kita kenal dari Benjamin Graham dalam karya klasiknya tahun 1934, “Security Analysis.” Anda bisa baca sedikit ulasannya pada artikel saya sebelumnya, Investasi Nett-Net: Investasi Nilai Tenang..
Metode value investing tahap ini berupaya membeli saham dengan harga rendah relatif terhadap pendapatan mereka saat ini, dividen saat ini, dan aset lancar.
Warren Buffett menggunakan strategi ini ketika beliau menjalankan Buffett Partnership dan saat awal mengakuisisi bisnis untuk portofolio investasi Berkshire Hathaway.
Tahap 2: Valuasi Bisnis, Bukan Saham
Berbeda dengan investasi nilai tahap 1 yang berfokus pada nilai perusahaan saat ini dan bukan nilai masa depan, tahap 2 berfokus pada pandangan ke depan dan nilai perusahaan di masa depan. Hal ini berawal dari pemikiran John Burr Williams yang berpendapat bahwa nilai wajar saham adalah sama dengan nilai seluruh dividennya di masa depan.
Dari Williams kita belajar tentang valuasi saham menggunakan Dividend Discount Model yang hingga saat ini masih relevan. Metode yang juga menjadi dasar valuasi DCF (Arus Kas yang Didiskon) modern. Anda bisa membaca “The Theory of Investment Value,” oleh John Burr Williams untuk memahami lebih lanjut.
Investor nilai tahap 2 berupaya membeli perusahaan dengan bisnis yang lebih baik dengan kebutuhan padat modal rendah yang dapat menghasilkan arus kas dari operasional tinggi dan pengembalian modal tinggi (Return on Capital). Tentang return on capital, anda bisa baca : Apa Itu ROIC?
Buffett beralih ke tahap 2 pada awal tahun 1970-an setelah Charlie Munger memperkenalkannya pada See’s Candies. Silakan baca : Buy Commodities Sell Brands : 4 Kata Kunci Bisnis Sukses.
Suka artikel ini? Masukkan email untuk mendapatkan artikel terbaru via email. TIDAK ADA SPAM.
Tahap 3: Nilai Ekonomi Jaringan (Network Economics)
Metode ini fokus mencari perusahaan yang mendapatkan manfaat dari efek ekonomi jaringan. Efek jaringan mengacu pada konsep bahwa nilai suatu produk atau layanan meningkat ketika jumlah orang yang menggunakan produk atau layanan tersebut meningkat. Contohnya seperti tingginya biaya peralihan akibat efek jaringan, putaran umpan balik positif (positive feedback loops), penguncian pelanggan, dan ketergantungan jalur. Perusahaan seperti ini dipandang memiliki nilai lebih tinggi.
Model bisnis yang ideal adalah model bisnis yang padat modal rendah dan memiliki tingkat pengembalian modal yang tinggi. Atau dengan kata lain, mencari perusahaan dengan karakter belanja modal rendah, ROIC tinggi.
Strategi ini adalah pendekatan berwawasan ke depan yang mempertimbangkan arus kas masa depan yang dapat dihasilkan dari aset tidak berwujud.
Kamu berada di level berapa sekarang, kawan? 😎