KAMPANYE “KOMPETITIF”.
Analis politik Universiti Malaysia Sabah Anantha Raman Govindasamy mengatakan keterlibatan beberapa pemimpin politik nasional termasuk Anwar telah membuat kampanye partai-partai tersebut “lebih tegas dan kompetitif”.
“Tema sentral yang membentuk wacana kampanye terus mencerminkan permasalahan struktural dan tata kelola yang sudah berlangsung lama di Sabah,” katanya kepada CNA.
“Yaitu kekurangan dalam pembangunan infrastruktur, persepsi korupsi yang terus-menerus, narasi pengabaian federal, hak Sabah berdasarkan Perjanjian Malaysia 1963, dan seruan yang lebih luas untuk hubungan federal-negara bagian yang lebih adil dan konstruktif.”
Perjanjian Malaysia 1963 mengacu pada instrumen hukum yang ditandatangani pada tahun 1963 sebagai dasar pembentukan Federasi Malaysia. Ia mengakui Sabah dan Sarawak bukan hanya sebagai negara bagian tetapi sebagai mitra setara dengan Malaysia Barat.
Anantha mengatakan bahwa retorika kampanye yang berulang kali semakin berpusat pada tuduhan bahwa aktor-aktor tertentu telah mengkompromikan atau melemahkan hak-hak Sabah demi keuntungan politik atau pribadi.
“Pengamatan awal menunjukkan bahwa sebagian besar pemilih di Sabah telah mengkristalkan preferensi politik mereka, sehingga hanya menyisakan sejumlah kecil pemilih yang belum memutuskan, termasuk pemilih pemula dan pemilih pemula, sebagai segmen yang masih dapat diperebutkan,” tambahnya.