Siapa nih, yang pengin kerja di luar negeri karena gaji di luar negeri lebih tinggi daripada di Indonesia? Enggak salah sih, soalnya perbedaan angkanya memang bikin banyak orang penasaran dan mulai mikir untuk coba peruntungan di negara lain.
Apalagi belakangan ini juga muncul fenomena #KaburAjaDulu, sebuah tren yang ramai di media sosial karena banyak anak muda curhat soal kerasnya cari kerja, beratnya biaya hidup, dan godaan buat “cabut” demi gaji yang dianggap lebih layak. Walau terdengar impulsif, fenomena ini sebenarnya menunjukkan keresahan generasi sekarang terhadap kondisi ekonomi dalam negeri.
Gaji di Luar Negeri Lebih Besar, Ini Beberapa Kemungkinan Penyebabnya

Tren #KabuAjaDulu sempat memicu diskusi yang lebih luas tentang kenapa gaji di negara lain bisa terlihat jauh lebih besar. Banyak yang membandingkan angka nominalnya saja, tanpa melihat faktor di baliknya. Padahal setiap negara punya standar hidup, aturan kerja, dan kemampuan industrinya masing-masing. Perbedaan itulah yang membuat gap gaji terlihat besar.
Dari sini, kita bisa mulai membahas apa saja hal yang membuat gaji di luar negeri tampak lebih menarik bagi pekerja Indonesia.
1. Produktivitas Tenaga Kerja Lebih Tinggi
Negara yang gajinya besar biasanya punya sistem kerja, teknologi, dan infrastruktur yang lebih maju. Akibatnya, satu pekerja bisa menghasilkan output lebih banyak dalam waktu yang sama.
Berdasarkan indikator dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD)rata-rata produktivitas tenaga kerja (diukur sebagai GDP per jam kerja) untuk negara‐OECD sekitar USD 70 per jam pada tahun 2023. Sementara itu di negara-negara dengan produktivitas rendah, angka ini bisa sekitar sepertiga dari rata-rata OECD.
Di Indonesia, meskipun tidak ditemukan angka terbaru yang persis sebanding dalam laporan yang sama, diketahui bahwa produktivitas masih di bawah rata‐rata negara maju. Hal ini menunjukkan bahwa banyak proses kerja di Indonesia masih manual atau kurang otomatisasi. Dengan produktivitas yang lebih rendah, maka potensi gaji juga cenderung lebih rendah.
Baca juga: Tren #KaburAjaDulu: Apakah Pindah ke Luar Negeri Benar-Benar Lebih Menguntungkan Secara Finansial?
2. Biaya Hidup (Cost of Living) Jauh Lebih Tinggi
Negara seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan, atau di Eropa memiliki biaya hidup yang tinggi: sewa rumah mahal, transportasi mahal, makanan mahal. Karena itu gaji di luar negeri menjadi lebih tinggi supaya penduduk bisa hidup layak.
Laporan OECD menyebut bahwa produktivitas tenaga kerja adalah kunci perubahan standar hidup (living standards) karena output yang lebih banyak per jam memungkinkan gaji yang lebih tinggi dan biaya hidup yang lebih terjangkau.
Jadi, perbedaan standar hidup ini salah satu faktor besar kenapa gaji di luar negeri, terutama di negara maju, tampak jauh lebih tinggi dibanding Indonesia.
3. Nilai Tukar Mata Uang
Berbagai mata uang seperti Dollar, Euro, Yen, atau SGD memang punya nilai yang jauh lebih kuat dibanding Rupiah. Karena itu, gaji di luar negeri tampak besar jika langsung dikonversi ke Rupiah.
Padahal nilai riilnya sebenarnya disesuaikan dengan standar hidup di negara tersebut. OECD juga memakai ukuran PPP (purchasing power parity) untuk membandingkan produktivitas antar negara.
Ukuran ini sudah memasukkan faktor nilai tukar dan daya beli dalam perhitungannya. Meski begitu, selisih produktivitas dan tingkat upah antar negara tetap terlihat lebar.

4. Struktur Ekonomi dan Industri Lebih Maju
Negara maju punya industri teknologi tinggi, seperti otomotif, AI, robotik, biotech. Industri seperti itu memberi gaji besar karena memerlukan skill tinggi dan menghasilkan profit besar.
Indonesia masih banyak bergerak di sektor yang margin keuntungannya rendah, misalnya perdagangan, manufaktur sederhana, dan pekerjaan berbasis tenaga, bukan teknologi. Laporan OECD menyebut bahwa penggunaan input modal, teknologi, efisiensi organisasi adalah bagian dari faktor produktivitas.
Dengan struktur industri yang kurang kompleks dan teknologi yang masih berkembang di Indonesia, maka potensi gaji untuk industri‐tinggi juga lebih terbatas.
5. Kebijakan Tenaga Kerja dan Perlindungan Pekerja Lebih Ketat
Di negara maju, pemerintah dan serikat pekerja menetapkan standar minimum yang tinggi, mulai dari upah minimum, jam kerja diawasi, tunjangan kesehatan, transport, pensiun. Misalnya, OECD mencatat bahwa dari 38 negara OECD, 30 memiliki upah minimum resmi. Sementara itu, Laporan dari World Economic Forum menyebut bahwa negara seperti Luxembourg, Australia, New Zealand, Jerman memiliki tingkat upah minimum per jam yang termasuk tertinggi.
Di Indonesia, walaupun ada upah minimum regional, tetapi tingkatnya jauh di bawah standar negara‐maju dan proteksi pekerja di beberapa aspek masih dalam tahap penguatan. Dengan demikian, gaji dasar pekerja cenderung lebih rendah.
6. Kompetisi dan Standar Global
Perusahaan di negara maju harus bersaing dalam pasar global, sehingga butuh pekerja sangat terampil dan gaji dinaikkan untuk menarik talenta. Indonesia masih fokus pada pasar domestik, jadi tekanan untuk menaikkan standar gaji tidak sekuat itu.
Dengan standar global yang lebih tinggi, perusahaan di negara maju cenderung menawarkan kompensasi yang lebih baik dibanding perusahaan dengan kompetisi lokal yang lebih terbatas.

7. Pajak dan Jaminan Sosial
Di negara maju, pajak masyarakat bisa tinggi. Imbalannya sepadan. Mulai dari layanan publik bagus, layanan kesehatan gratis, pendidikan juga hampir gratis, ada tunjangan bagi yang menganggur, hingga adanya jaminan usia tua. Jadi, bisa dikatakan gaji di luar negeri yang besar itu sebenarnya sudah termasuk biaya untuk membayar pajak dan layanan publik.
Di Indonesia, pajak relatif lebih rendah dan layanan publik dalam beberapa aspek masih dikembangkan. Ini berarti beban bagi pekerja secara langsung mungkin lebih ringan, namun juga imbalan (upah) dari perusahaan bisa lebih rendah karena struktur ekonomi dan kebijakan yang berbeda.
Baca juga: Mengungkap Potensi Penghasilan Sebagai Content Creator di Indonesia
So, sampai di sini sudah terlihat jelas penyebab perbedaan gaji di luar negeri dan Indonesia ya. Umumnya hal ini terjadi karena banyak faktor yang saling berkaitan.
Setiap negara punya standar hidup, aturan kerja, dan kemampuan ekonominya masing-masing. Semua itu membentuk tingkat upah yang berbeda. Dengan memahami latar belakang ini, kita bisa melihat bahwa selisih gaji bukan sekadar soal angka, tapi juga soal kondisi yang membentuknya.
Ingin meningkatkan kesejahteraan finansial dan produktivitas karyawan di kantor? Yuk, undang QM Financial untuk mengadakan kelas keuangan yang komprehensif dan praktis di kantor. Hubungi QM Financial sekarang ya!
