Minggu, 16 November 2025 – 07:31 WIB
Jakarta – Badan Kepegawaian Negara (BKN) mencatat jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia mencapai 5.359.209 orang per 1 September 2025. Berdasarkan angka tersebut tercatat Generasi Y (lahir 1977–1994) menjadi kelompok terbesar dengan proporsi 57 persen dari total ASN.
Kemudian, Disusul Generasi X (1965–1976) sebesar 30 persen, Generasi Z (1995–2010) sebesar 12 persen, dan Baby Boomers (1946–1964) yang tinggal 1 persen. Artinya, tenaga kerja ASN saat ini didominasi oleh kelompok usia produktif yang relatif matang, dengan tambahan generasi muda yang mulai masuk.
Komposisi tersebut, menuntut pola pembelajaran yang semakin adaptif terhadap karakter tiap generasi. Perbedaan cara berpikir, gaya belajar, hingga preferensi teknologi menjadikan kebutuhan pengembangan kompetensi ASN tidak lagi bisa diseragamkan,
Menyikapi hal ini, Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), Muhammad Taufiq mengatakan fakta itu menuntut setiap widyaiswara atau pengajar PNS untuk senantiasa mengembangkan diri dan pengetahuan khusus pada pembelajaran multi generasi.
Menurutnya, transformasi birokrasi saat ini menuntut agar proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi tidak bersifat ‘satu cocok untuk semua’melainkan adaptif terhadap karakter dan kebutuhan berbeda di setiap lintas generasi. Jangan hanya mengandalkan metode lama, melainkan kembangkan pola pembelajaran untuk Generasi X, Y dan Z yang memiliki pendekatan berbeda-beda.
“Dengan komposisi ASN yang kini multigenerasi dan dinamis, pengembangan kompetensi aparatur publik menjadi semakin kompleks tetapi juga penuh peluang. Sebagai Widyaiswara Utama, tanggung jawab bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga merancang dan mengelola pembelajaran yang tepat sasaran untuk Generasi X, Y dan Z”, jelas Taufiq dikutip dari keterangannya, Minggu, 16 November 2025.
Dia mengatakan bahwa Widyaiswara Utama harus berada di garis depan dalam merespons perubahan birokrasi, terutama dalam penyusunan kurikulum, model pembelajaran, dan inovasi metode penyampaian materi. Melalui pemahaman karakter generasi, widyaiswara diharapkan lebih selektif memilih pendekatan. Ia juga mencontohkan beberapa pola pembelajaran multigenerasi, Generasi X cenderung menghargai struktur, pengalaman, dan pembelajaran berbasis praktik.
Generasi Y (Millennial) lebih responsif terhadap pembelajaran kolaboratif, fleksibel, dan relevan dengan perkembangan zaman dan terakhir, Generasi Z membutuhkan pendekatan cepat, digital, visual, serta pengalaman belajar yang interaktif.
Halaman Selanjutnya
Dia berharap 7 Widyaiswara yang saat ini dikukuhkan dapat terus menjadi pilar utama peningkatan kualitas aparatur, terutama dalam mendorong birokrasi yang adaptif, profesional, dan responsif dan berdampak terhadap kebutuhan masyarakat.