DOWNLOAD 88ID
Aplikasi Game Terbesar di Indonesia
DOWNLOAD APP

Bibit Weekly: BI Tahan Suku Bunga & Non-Farm Payroll AS Naik

Bibit Weekly: BI Tahan Suku Bunga & Non-Farm Payroll AS Naik



Jaka Times By 88ID

Ringkasan Pasar

  • Rupiah Dalam Tekanan, BI Tahan Suku Bunga – Bank Indonesia pada Rabu (19/11) mempertahankan suku bunga BI Rate di level 4,75%, sejalan dengan ekspektasi konsensus.

  • Realisasi APBN 10M25: Belanja Sejalan Target, Penerimaan Pajak Masih Lemah – Kementerian Keuangan pada Kamis (20/11) memaparkan realisasi APBN hingga Oktober 2025, yang mencatat defisit setara ~2% terhadap PDB (vs. 10M24: ~1,4% terhadap PDB).

  • Data Tenaga Kerja AS Menguat Penggajian Non-Pertanian (NFP) di AS naik 119 ribu pada September 2025 (vs. ekspektasi konsensus: 50 ribu), tertinggi dalam 5 bulan. Namun, tingkat pengangguran mencapai level tertinggi sejak Oktober 2021.

Rupiah Dalam Tekanan, BI Tahan Suku Bunga

  • Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Rabu (19/11)sejalan dengan ekspektasi konsensus. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa pihaknya dalam jangka pendek akan berfokus pada stabilisasi rupiah, menarik aliran investasi asing, dan memperkuat transmisi kebijakan moneter.

  • Dalam 1 bulan terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah melemah -0,7% ke level 16.700 per Jumat (21/11) seiring kenaikan indeks dolar AS (DXY) sebesar +1,3% pada periode yang sama.

  • Sementara itu, BI mencatat bahwa pertumbuhan kredit perbankan melandai ke +7,36% YoY per Oktober 2025 (vs. September 2025: +7,7% YoY), seiring penurunan suku bunga kredit perbankan yang lebih lambat.

  • Rilis data ini menyusul kabar bahwa pemerintah sejak 10 November telah menambah penempatan dana sebanyak total Rp76 triliun kepada BMRI, BBRI, BBNIdan Bank Jakarta.

Realisasi APBN 10M25: Belanja Sejalan Target, Penerimaan Pajak Masih Lemah

  • Kementerian Keuangan pada Kamis (20/11) memaparkan realisasi APBN hingga Oktober 2025. APBN tercatat menghasilkan defisit setara ~2% terhadap PDB (vs. 10M24: defisit ~1,4% terhadap PDB).

  • Pendapatan negara masih terkontraksi -6% YoYmemenuhi ~74% pandangan APBN 2025 (vs. 10M24: ~80% realisasi APBN 2024). Penerimaan pajak neto turun -3,9% YoY, dipengaruhi oleh faktor restitusi (pengembalian pajak), meskipun penerimaan pajak bruto naik +1,8% YoY.

  • Di sisi lain, belanja negara tumbuh +1,4% YoYmencapai ~74% pandangan APBN 2025 (vs. 10M24: ~76% realisasi APBN 2024). Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya belanja pemerintah +2,5% YoY, sementara transfer ke daerah turun -1,2% YoY.

Data Tenaga Kerja AS Menguat

  • Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Kamis (20/11) mencatat bahwa penggajian non-pertanian (NFP) SEBAGAI naik 119 ribu pada September 2025, melampaui ekspektasi konsensus di level 50 ribu dan menjadi peningkatan tertinggi dalam 5 bulan terakhir. Di sisi lain, data NFP bulan Agustus 2025 direvisi secara signifikan dari bertambah 22 ribu menjadi terkontraksi 4 ribu.

  • Sementara itu, tingkat pengangguran di AS tercatat naik tipis menjadi 4,4% pada September 2025 (vs. Agustus 2025: 4,3%), sedikit di atas ekspektasi konsensus (4,3%), level tertinggi sejak Oktober 2021.

  • Secara terpisah, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa dia merasa telah mengidentifikasi pilihannya terkait calon kepala The Fed berikutnya. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menjelaskan bahwa calon tersebut kemungkinan akan diumumkan sebelum Natal, untuk menggantikan Jerome Powell setelah jabatannya berakhir pada Mei 2026.

Poin Penting

Meskipun data tenaga kerja AS bulan September 2025 yang dirilis terlambat menunjukkan perbaikan pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran justru naik ke level tertinggi empat tahunsehingga investor terbagi dalam menilai implikasinya terhadap keputusan FOMC (Federal Open Market Committee) mendatang.

Namun, data tersebut tetap mendorong lonjakan ekspektasi peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan Desember 2025. Pernyataan Presiden Fed New York, John Williams, pada Jumat (21/11) turut mengangkat ekspektasi pasarsetelah ia menyebut bahwa kebijakan moneter AS masih “sedikit restriktif” dan membuka ruang penyesuaian suku bunga “dalam waktu dekat.”

Per Senin (24/11), ekspektasi probabilitas pemangkasan suku bunga AS sebesar -25 bps pada Desember 2025 meningkat menjadi ~67% (vs. 14/11: ~44%) berdasarkan Alat FedWatch CME.

Kemudian, meski BI masih melihat ruang untuk memangkas suku bunga lebih lanjut setelah beberapa kali telah memangkas suku bunga terlebih dahulu (-125 bps sepanjang tahun 2025) dibandingkan The Fed, kami menilai probabilitas pemangkasan lebih lanjut ke depannya akan sangat bergantung kepada perkembangan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

Berdasarkan konsensus Bloomberg, BI Rate diproyeksikan turun  -25 bps pada Desember 2025 dan -50 bps pada 2026.

Investor perlu terus mencermati dinamika ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, perkembangan inflasi AS, serta respons kebijakan BI yang berpotensi mempengaruhi arus modal dan stabilitas rupiah.

Bagi investor yang ingin menjaga stabilitas portofolio, aset seperti Reksa Dana Pasar Uang tetap menjadi pilihan dengan profil risiko rendah. Sementara itu, Reksa Dana Obligasi berpotensi diuntungkan di tengah tren penurunan suku bunga yang diperkirakan masih akan berlanjut tahun depan.




Previous Article

Asdo Artriviyanto Dicopot dari Jabatan Dirut KCI Imbas Tumbler Hilang?

Next Article

Pertanyaan Paling Sering Diajukan Tentang NFT (Token Non-Fungible)

Write a Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *